Mitigasi El Nino di Sektor Energi, Bukti Negara Hadir Antisipasi Krisis

Opini2 Views
banner 468x60

Oleh : Nofer Saputro )*

El Nino tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan cuaca yang berdampak pada sektor pertanian. Ketika fenomena iklim tersebut berlangsung dengan intensitas sangat kuat dan berpotensi bertahan hingga awal 2027, dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor strategis, termasuk energi. Kekeringan berkepanjangan, suhu yang meningkat, serta tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan dapat mengancam fasilitas energi yang berada di kawasan rawan. Karena itu, langkah pemerintah melakukan mitigasi sebelum gangguan berkembang menjadi krisis merupakan bentuk penting kehadiran negara dalam menjaga keberlanjutan energi nasional.

banner 336x280

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan mitigasi terhadap risiko El Nino pada sejumlah fasilitas energi. Salah satu perhatian utama berada di wilayah timur Indonesia, termasuk fasilitas LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ancaman perubahan kondisi iklim telah ditempatkan sebagai bagian dari pertimbangan dalam menjaga keamanan fasilitas energi strategis. Negara tidak menunggu sampai gangguan terjadi dalam skala besar, tetapi mulai mengantisipasi risiko yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi.

Urgensi mitigasi semakin terlihat dari kondisi El Nino yang masih berada dalam kategori sangat kuat. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan anomali suhu muka laut wilayah Nino 3.4 pada dasarian III Agustus 2026 mencapai positif 2,74 derajat Celsius, sementara rata-rata Juni-Juli-Agustus berada pada positif 2,2 derajat Celsius. Kondisi tersebut menggambarkan tekanan iklim yang tidak dapat dianggap ringan. BMKG juga memperkirakan El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027, sehingga pemerintah perlu memastikan langkah antisipasi tidak berhenti pada respons jangka pendek.

Fasilitas Tangguh LNG menjadi contoh nyata mengapa mitigasi harus dilakukan secara terpadu. Kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan tersebut sempat mendekati pusat tangki fasilitas energi. Menurut Bahlil, kondisi itu telah berhasil ditangani sehingga tidak mengganggu fasilitas strategis tersebut. Keberhasilan penanganan tersebut penting bukan hanya dari sisi keselamatan fasilitas, tetapi juga dalam menjaga kesinambungan produksi energi nasional.

Tangguh LNG memiliki posisi strategis karena setelah beroperasinya Train 3, kapasitas produksinya mencapai 11,4 juta ton per tahun atau sekitar 35 persen dari produksi LNG nasional. Angka tersebut memperlihatkan bahwa gangguan serius terhadap fasilitas Tangguh berpotensi memiliki konsekuensi lebih luas terhadap ketahanan energi. Karena itu, perlindungan terhadap kawasan fasilitas energi dari ancaman karhutla tidak dapat dipandang sebagai pekerjaan teknis biasa. Di dalamnya terdapat kepentingan menjaga pasokan, stabilitas industri, serta kepentingan ekonomi nasional.

Penanganan karhutla di sekitar Tangguh LNG juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarlembaga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebelumnya memperkuat penanganan dengan mengerahkan helikopter water bombing. Hingga 28 Agustus 2026, operasi tersebut telah melakukan 69 kali penyiraman dengan sekitar 69 ribu liter air. Dua lokasi yang ditangani tidak lagi menunjukkan kobaran api, meskipun pemantauan tetap dilakukan karena masih terdapat asap tipis dan kemungkinan bara di bawah tutupan vegetasi. Pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa mitigasi bukan sekadar memadamkan api, melainkan memastikan potensi kebakaran tidak kembali berkembang.

Pandangan akademisi Universitas Airlangga, Dr Aditya Prana Iswara, juga memperkuat pentingnya perubahan pendekatan dalam menghadapi El Nino. Ia menilai mitigasi tidak akan optimal apabila penanganan bencana masih cenderung reaktif. Menurut Aditya, persoalan tata kelola dan sinergi antarlembaga perlu diperkuat karena ego sektoral dapat menghambat efektivitas mitigasi. Pandangan tersebut relevan bagi sektor energi karena perlindungan fasilitas strategis tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab satu kementerian atau satu lembaga.

Mitigasi juga perlu diperluas dari sekadar pengamanan fasilitas menuju penguatan ketahanan sumber daya pendukung. Aditya menekankan pentingnya cadangan air mandiri melalui pemanenan air hujan atau rain harvesting. Dalam kondisi kekeringan panjang, ketersediaan air dapat menjadi persoalan serius bagi masyarakat maupun aktivitas industri. Cadangan air, pengelolaan sumber daya secara efisien, serta perlindungan lingkungan menjadi bagian dari strategi menghadapi risiko yang saling berkaitan.

Di sinilah konsep mitigasi perlu ditempatkan sebagai investasi ketahanan nasional. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pencegahan pada dasarnya dapat mengurangi potensi kerugian yang jauh lebih besar ketika bencana telah berkembang. Pengamanan fasilitas energi dari karhutla, pemantauan titik panas, kesiapan peralatan pemadaman, penguatan cadangan air, serta koordinasi pemerintah pusat dan daerah merupakan rangkaian kebijakan yang harus berjalan bersamaan.

El Nino juga mengajarkan bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kapasitas produksi yang dimiliki Indonesia, tetapi juga seberapa kuat negara melindungi infrastruktur yang menopangnya. Fasilitas energi yang berada di wilayah dengan risiko kekeringan dan karhutla membutuhkan sistem peringatan dini, prosedur tanggap darurat, serta pemantauan berkelanjutan. Dengan demikian, keberlanjutan produksi energi dapat tetap dijaga meskipun tekanan iklim meningkat.

*) Penulis adalah peneliti dari Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *